Pandai Sikek, Nagari Eksotik di Kaki Singgalang

"Selain kilang tebu tradisional, nagari ini juga penghasil tenun"
Kilang Tebu Tradisional di Kaki Gunung Singgalang (KLIKPOSITIF/Zulkifli)

PADANG,KLIKPOSITIF-Kali ini referensi destinasi yang menjadi lokasi piknik berasal dari beberapa tempat dalam puisi-puisi yang dikarang oleh penyair Sumatera Barat.

Pandai Sikek

Lewat bus dengan klakson yang panjang/membawa buah dan sayuran dari pegunungan//Ikut aku satu gula hitam Singgalang/setelah manis pergi tinggal sepah terbuang (Dikutip dari puisi Singgalang Gula Tebu-Deddy Arsya)

Nagari ini adalah perlintasan para pendaki yang hendak menuju Gunung Singgalang. Biasanya para pendaki menempuh jalur ini pada malam hari agar bisa beristirahat di sepertiga bagian gunung sebelum melanjutkan pendakian keesokan paginya. Tapi, tak ada salahnya mendatangi nagari ini di siang hari.

Daerah di kaki Gunung Singgalang ini merupakan daerah produktif dengan industri rumah tangganya di mana-mana. Salah satunya adalah kilang tebu tradisional. Melihat kerbau menjalankan mesin penggiling tebu dengan mata tertutup, kemudian mengamati proses memasak hingga mencetak gula tebu merupakan sensasi piknik kaki gunung yang jarang ditemui di tempat lain.

Selain kilang tebu tradisional, nagari ini juga penghasil tenun. Tenun Pandai Sikek, begitu hasil kerajinan itu dikenal. Silahkan amati rumah-rumah di kiri kanan jalan setapak yang mengarah ke kilang tebu tradisional. Kita akan menemukan alat tenunan yang ditaruh tak jauh dari jendela rumah.

Tak ada salahnya meminta izin ke pemilik rumah untuk masuk dan melihat bagaiman proses pengerjaan tenun Pandai Sikek yang menjadi gambar pada uang pecahan 5.000 keluaran 1999 itu. Dan ‘dua tiga pulau terlampui’ ketika kita memilih Nagari Pandai Sikek sebagai penawar penat karena rutinitas kerja sehari-hari.

Zulkifli