Sejak Ada KWT Mandeh, Petani Bisa Jadi Pemandu Wisata

"Sejak tahun 2014, Masril kini memilik dua profesi"
Masril membanderol jasanya dengan biaya Rp650.000-Rp1.650.000 untuk sekali pelayaran (KLIKPOSITIF/Satria Putra)

PESISIR SELATAN, KLIKPOSITIF -- Semenjak digenjotnya pengembangan potensi Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Mandeh tiga tahun lalu, kini objek wisata itu telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Salah satu yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah terbukanya lapangan kerja baru dan bertambahnya sumber mata pencaharian warga di kawasan tersebut.

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Masril (58). Ia mengaku dulu sebelum Mandeh dikembangkan, ia hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp1,5 juta per-bulan dari pekerjaannya sebagai petani.

Namun sejak tahun 2014, Masril kini memilik dua profesi, yakni sebagai petani dan yang kedua adalah pemandu wisata dengan menawarkan jasa angkutan kapal kepada para wisatawan yang berkunjung dan berlayar ke Mandeh.

"Mulai dari tahun 2014 lalu, saya mangajukan pinjaman kepada salah satu bank BUMN, lalu dana pinjaman itu saya gunakan untuk membuat sebuah kapal, biaya satu kapal ini kira-kira habis Rp40.000.000 sampai Rp50.000.000," kata Masril pada KLIKPOSITIF.

Saat ini katanya, di Mandeh terdapat sekitar 200 unit kapal wisata. Masril menawarkan jasa angkutan kapal wisatanya itu pada hari Sabtu dan Minggu, sementara di hari lain ia melayani jasa angkutan kapal jika ada wisatawan yang memesan. Jika tidak ada, ia kembali bertani.

Masril membanderol jasanya dengan biaya Rp650.000-Rp1.650.000 untuk sekali pelayaran ke pulau-pulau yang ada di kawasan tersebut.

Dengan usaha jasa angkutan kapal wisata ini, kini setiap bulannya Masril bisa meraup untung rata-rata Rp2.500.000.

[Satria Putra]